Minggu, 12 Januari 2014

Baru level Sersan Kepala

Oleh: Bungben

Satu bulan ini hasil buruan tupai kurang memuaskan. Hasilnya rata-rata 3-4 ekor saja. Kalau dalam siatem kepangkatan TNI, saya itu baru level bintara. Simbol pangkatnya centang simetris warna kuning. Level tertinggi bintara itu 4 buah centang. Istilahnya Sersan Mayor. Disingkat Serma.
Hari minggu tadi pagi niatnya mau naikin pangkat. Minimal bintara tinggi lah. Bintara tinggi itu pangkatnya disimbolkan garis bergerigi vertikal. Level tertinggi dari bintara tinggi adalah Pembantu Letnan Satu. Disingkat Peltu. Jumlah garis bergerigi vertikalnya ada 2. Agar bisa berpangkat Peltu minimal saya harus dapat 4 + 2. Atau sama dengan 6 ekor.
Sayangnya tadi pagi saya gagal naik pangkat. Karena hanya berhasil menjatuhkan 3 ekor hama tupai dalam durasi 4 jam. Dari pukul 5.30 hingga pukul 09.30.
Sebenarnya saya bertemu dengan kawanan tupai yang lumayan ramai. Saya shoot 7 kali. 3 jatuh, 4 meleset. Padahal jarak target tak jauh. Setelah dievaluasi ternyata setelan scope berubah.
Memang hari jumat tele saya harus dilepas sama Tok Qois, untuk membetulkan stang kokang yang nyangkut. Setelah itu telenya saya zeroing dan sudah kembali normal. Buktinya, tadi pagi shoot 3 kali berturut-turut, ketiganya tumbang. Tapi setelah itu meleset 4 kali berturut-turut. Mungkin karena skrup mounting kurang kencang sehingga bergeser.
Karena hanya dapat 3, akhirnya pangkatpun tak naik. Masih tetap Bintara!
Mudah-mudahan minggu depan bisa naik pada kelompok bintara tinggi dengan level tertinggi yaitu Peltu. Hasil buruan harus 6 ekor. Nanti kalau sudah ganti telescope elit 40 mm, targetnya harus bisa mencapai pangkat perwira menengah dengan simbol melati satu (mayor), melati dua (letkol) dan melati tiga (kolonel).
Nah, untuk mencapai level pamen tertinggi itu saya harus bisa menjatuhkan target Peltu 6 ekor ditambah  target letnan satu 2 ekor ditambah target kolonel 3 ekor. Jadi total harus 11 ekor. Dan kalau bisa dapat 12 ekor pangkatnya sudah masuk dalam kelompok perwira tinggi. 12 ekor brigadir jendral(bintang satu), 13 ekor mayor jenderal (bintang dua), 14 ekor letnan jendral (bintang tiga) dan 15 ekor jendral (bintang empat).
Entah apakah saya bisa sampai ke pangkat tertinggi tersebut. Namun saya yakin ajalah,  karena seperti juga karir dalam bisnis, karir dalam berburu juga dapat cepat naik asal kita dapat lebih bekerja keras dan lebih disiplin dalam latihan dan menambah pengetahuan. Tetap optimizzzz....heheee ape die?!

Rabu, 08 Januari 2014

Sticker Camo

Oleh: Bungben


Sticker camo ini saya desain untuk berbagai keperluan, seperti untuk motor, mobil, box motor, tanki motor, dsb. Motifnya yang ada cukup besar sehingga agak kurang pas jika diterapkan untuk barang-barang yang kecil seperti telescop atau tabung senapan. tapi jika diperlukan motif pada sticker camo ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan barang-barang kecil seperti itu. Dijual per gulung dengan harga Rp 165.000 per gulung dengan ukuran 110cm x 100 cm. Pemesanan bisa pula untuk ukuran setengahnya yaitu 110 cm x 50 cm dengan harga Rp 85.000. tersedia motif moasy oak dengan brighnes 2 macam. Jika berminat bisa sms atau call di nomor 085245186277. Bisa dipesan untuk para penghobbi kegiatan outdoor di seluruh nusantara. Oya perkiraan berat dalam packaging silender sekitar 1 Kg.


Motif sticker moasy oak yang tersedia


Aplikasi di tanki motor byson


MOHON MAAF, STOCK HABIS!

Minggu, 05 Januari 2014

Tak Beruntung


Oleh: Bungben

Minggu yang lalu cuaca cerah.Senapan juga berada dalam kondisi yang prima. Yakin bahwa saat turun berburu tupai di kawasan jeruju besar akan mendapatkan hasil buruan yang banyak. Nyatanya hanya berhasil temukan 3 ekor target, dan tiganya jatuh, walau hny dua yang dapat ditemukan. Senapan betul-betul sangat meyakinkan. Sayangnya walau masih pagi, kawanan tupai tak terlihat lagi. Sepi, sunyi, senyap. Rekan-rekan yang lain bang totok dan bang iwan (siantan) punya nasib yang sama hanya bisa bawa pulang 2 ekor  tupai. Kecuali Bang Ripin yang mampu shoot and kill 4 ekor tupai dan 2 ekor burung punai. Total yang dibawa pulang 10 ekor hama tupai dan 2 ekor burung kebun. Jam 8 keluar dan masuk lokasi baru. Berharap menemukan target dengan keyakinan pasti timbang. Tapi 2 jam berlalu kawanan tupai tak terlihat juga. 
Walhasil tak ada tambahan buruan. Padahal senapan dalam kondisi yang te-ope-bgt. Dongkol rasanya.

Pagi itu air memang pasang besar. Daratan kebun tertutup air hingga separuh betis.  Kemungkinan ada hubungan antara ketidakmunculan kawanan tupai dengan kebun yang tergenang air pasang.
Hari minggu ini turum bersama tim lama. Pak Nasir, pak udin, mas gandung dan adik sepupunya. Hari mendung, subuh hari hujan bahkan sangat deras. Tapi lokasi kebun kering. Tak ada air pasang. Test akurasi dua kali. Senapan dalam akurasi yang prima. Masuk lokasi jumpa target, bidik langsung shoot.Melesest. Donhkol rasanya.
Tak lama jumpa lagi dengan hama tupai yang sedang makan dalam posisi berdiri di pelapah pohon kelapa setinggi 15 meter. Ambil posisi sekitar 10 langkah dari pohon, Bidik dan shoot, target jatuh. Sayang ada sungai besar dan harus jalan memutar. Cari dicari target yang jatuh tak ditemukan. Dongkol lagi.
Berjalan lagi, ada tampak pergerkan di atas pohon kelapa. Jaraknya masih sangat jauh kemungkinan 80meter. Siapkan peluru, tarik kokang,  isi peluru, dorong dan upssss, tuas kokang macet tak bisa didorong ke depan. Utak atik ditengah serbuan nyamuk kebun yang garang, ternyata gagal.
Serbuan nyamuk kebu menggila karena tak membawa obat nyamuk bakar. 3 ekor nyamuk berhasil hinggap di badan. Satu di bagian leher, 2 di kening semuanya menimggalkan rasa gatal yang membuat risih.
Tuas kokang senapan benar-benar tak bisa diajak kompromi. Membatu,  sekeras kedongkolan atas ketidakberuntungan 2 minggu ini.
Kapan yak bisa shoot and kill sebanyak bang yus dan pak lung...10, 20 ekor....masih jauh kayaknya nih.

Rabu, 18 Desember 2013

Keunggulan Singleshoot

Oleh: Bungben 

Kemarin pada saat berburu saya mencoba menggunakan sistem pengisian mimis dengan mekanisme loading manual. Magazine pcp air arm saya yang berisi 9 butir peluru tetap saya bawa namun sama sekali tidak saya gunakan.
Ternyata ada keasyikan tersendiri berburu menggunakan sistem loading manual. Selain dapat dengan cepat mengganti jenis mimis pada saat akan membidik, penggunaan loading manual memberikan dampak psikologis khusus yang memaksa kita agar semakin cermat dalam membidik target.
Kecermatan akan semakin meningkat karena jika sampai target lolos akan banyak waktu terbuang untuk memasukan mimis kembali. Dengan demikian sikap gopoh, terburu-buru, dan gugup akan bisa diminimalisir. Jika telah terbiasa menggunakan sistem singleshoot, kemungkinan akan terbentuk keyakinan dibawah sadar kita untuk menerapkan prinsip one shoot one kill. Inilah yang mungkin dijadikan alasan para penembak senior lebih memilih sistim singleshoot dibandingkan multishoot/ magazine pada saat berburu.
Kemudahan dan kecepatan pengisian mimis ke lubang laras pada senapan pcp yang dilengkapi oleh magazine seringkali membuat kita tidak cermat dalam membidik sasaran.
Belum lagi jika sistem perputaran magazine yang sering macet akibat pembuatan magazine yang kurang presisif pada senapan pcp lokal. Ada perasaan mangkel karena mimis tak bisa masuk ke lubang laras, ada perasaan tertekan karena takut kehilangan momentum bidik. Serta akan muncul rasa ragu apakah mimis yang masuk pada lubang laras masih normal atau mengalami kerusakan, sehingga akan mengganggu akurasi tembakan, karena tekanan kokang yang dipaksakan.
Kelebihan lain jika menggunakan mekanisme singleshoot adalah kita dapat memilih jenis mimis yang akan digunakan. Hal ini sulit dilakukan jika kita menggunakan magazin. Bahkan kita bisa membawa lebih dari 2 jenis peluru dan menggunakannya berdasarkan sikon yang ada.
Jika Anda telah terbiasa menggunakan magazine, sekali-kali bolehlah mencoba berburu menggunakan loading peluru manual/ singleshoot. Terlebih bagi
Anda yang sering mengalami situasi one magazine one kill seperti yang sering saya alami juga hehee.

Berburu Tupai VII: Posisi Bidik

Oleh: Bungben

Judek dengan deadline kerjaan akhir tahun di swadesiprinting, saya pun memutuskan untuk berburu tupai diperkebunan kelapa kawasan jalan ampera pontianak. biasanya setelah aktivitas berburu fikiran saya menjadi lebih fresh, menulis kebih lancar dan masalah2 bisnis dapat dipecahkan dengan lebih mudah. Tak apalah dikutuk konsumen satu hari, hihii.
Saya turun pagi tadi untuk mempelajari posisi bidik dan shooting moment.
Yang saya maksud dengan posisi bidik adalah posisi kita saat mengunci target. Bagaimanakah posisi yang pas? Duduk, berdiri atau tiarap kayak perang vietnam? 
Lalu berapa jarak yang ideal antara kita dengan target dan berapa derajat kita harus mengangkat moncong senapan? Apa hubungan antara posisi bidik dengan moment untuk menarik pelatuk? Dan bagaimana caranya supaya target yang telah terluka tidak nyangkut?
Wah mau cari fresh, kok jadi mumet mikir neh....hihii tentu mikirnya sebelum dan sesudah berburu.berburu ya berburu ga usah mikir. Saat berburu kita sudah harus yakin bahwa pengetahuan telah menjadi insting. Gayenye! hehee.
Malam ini lagi malas menjawab aneka pertanyaan tersebut. Yang jelas tadi pagi dari jam 05.30 sampai jam 08.00 saya berhasil shoot 6 ekor. Sialnya 3 ekor nyangkut di pohon, 2 dipohon bambu, satu dipohon langsat.  Jam 08.00 - 09.00 hasilnya nihil, gagal mengunci sasaran. Tupainya sudah jadi sprinter olimpiade.
Jam 09.00 pulang kerumah, karena tupai sudah tak terlihat. Katanya sih lagi pada sibuk gosok gigi dan bersiap bobo..
Jam 10 sampai dirumah lalu terima telpon, dengerin 3 konsumen ngomel via hp karena kerjaan belum selesai, desain belum dikirim, dan kwitansi salah ketik.
Gantian jadi sasaran tembak!


Bagi rekan-rekan yang ingin membaca postingan tentang berburu tupai silahkan klik link di bawah ini:

Keterampilan Berburu

Berburu itu hobby yang gampang-gampang susah. Tampak gampang, tapi dalam pelaksanannya ternyata susah. Sehingga tak heran jika banyak hunter mengatakan berburu itu sifatnya untung-untungan.

Ada benarnya juga.

Terkadang kita sudah sangat siap dengan senjata berburu kita. Power,akurasi, peluru dan triger senapan sudah kita yakini berada dalam kondisi yang prima. Kitapun sangat yakin. Pokoknya kalau masuk dalam lubang bidikan tak mungkin target dapat belenggang pergi.

Namun, saat di lapangan ehhh binatang buruan tak satupun yang lewat. jangankan lewat, suaranyapun tak kedengaran. Walhasil balon kekecewaanpun menggelembung di dada.

Setelah berdiskusi panjang dengan rekan-rekan pemburu, sambil membaca aneka referensi dan mempraktekannya dilapangan, dengan berat hati harus saya simpulkan bahwa aktivitas berburu itu bukanlah untung-untungan. Akan tetapi berburu itu adalah sebuah keterampilan. Oleh karena itu bisa dipelajari dan diasah dilapangan.

Setidaknya terdapat 5 keterampilan yang menentukan keberhasilan dalam berburu. Keterampilan mencari lokasi, keterampilan menemukan target buruan, keterampilan memahami kharakter hewan buruan, keterampilan mengunci target, dan keterampilan membidik target.

lima keterampilan itu tentu didasarkan pada satu syarat utama:  senapan yang kita gunakan sebagai alat berburu berada dalam kondisi yang ideal.

Di lain waktu akan saya tuliskan diskripsi masing-masing keterampilan tersebut.

Namun, tidak berarti bahwa setelah Anda membaca artikel ini Anda akan sukses berburu. 5 keterampilan yang saya sharekan diatas hanyalah  folder-folder tempat menampung aneka informasi dan keahlian yang kita miliki. sehingga ketika kita mendapatkan masukan tentang kharakter musang misalnya, maka informasi itu tinggal dimasukan ke dalam folder 'kharakter hewan buruan'.

Semakin banyak isi folder tersebut semakin kaya informasi yang kita miliki.semakin banyak kita praktekan, maka akan semakin meningkatlah keterampilan kita. Semakin meningkat keterampilan kita semakin kecillah ketidak beruntungan kita untuk mendapatkan hewan buruan.

Lalu apakah saya yang memposting tulisan ini adalah seorang pemburu yang sudah terampil?

Jawabannya tidak! Saya hanya lebih terampil sedikit saja dibandingkan dengan rekan-rekan hunter lainnya dalam membuat pola pembelajaran dan menuliskan gagasan. Kalau masalah sukses berburu saya masih berada dalam situasi tidak beruntung terus, karena selalu kalah banyak menenteng hewan buruan dibanding rekan-rekan lainnya.hehee.

Yang penting sehat lah! Hihii.

Pengcab Perbakin Kalbar

Oleh: Bungben

Aneh juga jika hingg saat ini Kalimantan Barat tidak memiliki pengurus cabang Perbakin. Padahal komunitas senapan angin yang bisa menjadi kantong tempat berkembangnya bibit atlet petembak di Kalbar cukup banyak. Belum termasuk para penghobby airsoft gun.
Mungkin banyak pihak meresahkan hal yang sama, termasuk saya. Namun, ya sekedar resah saja karena tak tau mau berbuat atau bisa berbuat apa.
Ada sedikit jalan untuk berbuat sesuatu saat membaca sms beruntut dari Pak Bambang, penghobby air rifle hunting yang juga sekwan di DPRD Prov.Kalbar.
Dengan bersemangat ia mengajak saya untuk terlibat pertemuan dengan pejabat di Polda Kalbar. Temanya terkait dengan rencana menghidupkan kembali Pengcab Perbakin.
Sudah barang tentu berita dan ajakan itu mencerahkan semangat saya.  Saya begitu bersemangat mendapat ajakan Pak Bambang.
Kamis tanggal 19 Desember saya diminta standby dan segera meluncur jika dikontak untuk mendiskusikan hal rencana itu. Melalui sms sy hanya membalas ajakan standby dengan dua kata penyemangat; zsssiap, pak!