Senin, 26 Desember 2016

DRAFT KETENTUAN LOMBA
KALBAR AIR RIFLES CHAMPIONSHIP
PIALA KADIV HUMAS POLDA KALBAR 
29 JANUARI 2016


A. Kelas Perlombaan, Jenis dan jarak sasaran 

Kelas perlombaan terdiri dari:
a) Bencherst Target Pompa Pisir 15 meter 
b) Bencherst Target Pompa Teleskop 25 meter
c) Benchrest PCP teleskop 50 Meter

  1. Jenis Target kertas target standar perbakin
  2. Jumlah sasaran 2 buah kertas target untuk 2 putaran. Masing-masing putaran 10 kali shoot.
  3. Setiap peserta berkesempatan untuk melakukan test tembak sebanyak 5 kali shoot pada kertas target khusus (tidak termasuk 2 kertas target yang disediakan untuk lomba)
  4. Jarak sasaran untuk kelas pompa pisir 15 meter, pompa teleskop 25 meter, PCP teleskop 50 meter. 
  5. Tinggi sasaran 1,5 meter diatas tanah.


B. Sikap Petembak. 
Duduk di kursi, Senjata bersandar di meja menggunakan Sand Bag/Cagrag Kayu dari Panitia.

C. Aturan menembak
Satu kertas target untuk 10 kali tembakan.

D. Waktu Penembakan

Jumlah tembakan pertandingan 25 tembakan terdiri dari 5 (Lima)  tembakan percobaan
20 tembakan penilaian
  • Petembak diberikan waktu untuk melakukan tembakan percobaan sebanyak 2 menit untuk senapan PCP dan 5 menit untuk senapan pompa. 
  • Untuk penembakan penilaian, setiap petembak diberi waktu 10 menit  untuk senapan Gas, untuk senapan Pompa 15 menit untuk senapan pompa.
  • Aba-aba diberikan pada saat memulai tembakan dan pada saat waktu selesai.
  • Untuk pengisian kembali senapan yang menggunakan Gas tidak ada penambahan waktu.

E. PENILAIAN
  • Hasil tembakan atau penilaian sesuai peraturan Bench Rest  25 meterdan Bench  Rest  50 meter Standard Nasional.
  • Tembakan salah tembak atau satu buah sasaran berisi dua buah perkenaan atau lebih maka memperoleh nilai 0 ( Nol )
  • Jika terjadi persamaan nilai maka, akan dilihat dari nilai perkenaan sasaran ring target terbesar terbanyak.
  • Apabila terjadi persamaan nilai maka diadakan shoot off ( DUEL ) dengan 5 ( Lima ) sasaran Ring Target, dalam waktu 1 menit. Apabila masih terjadi persamaan nilai maka diadakan shoot off ( DUEL ) dengan 5 ( Lima ) sasaran Ring Target, dalam waktu 30 detik.
  • Juara adalah petembak yang mendapatkan nilai tertinggi


F.  KETENTUAN SENAPAN
  1. Semua jenis senapan angin Gas / Pompa/ Pegas .Kaliber 4,5mm/177 (termasuk ukuran peluru) tanpa kecuali.
  2. Berat total tidak melebihi 8 Kg (16 Lbs) dengan Scope dan kelengkapannya.


G. KETENTUAN PERLENGKAPAN
  1. Senjata yang digunakan harus sudah lulus pemeriksaan, diadakan pemeriksaan ulang setelah selesai menembak, jika ternyata tidak lulus maka peserta didiskualifikasi.
  2. Peserta boleh  menggunakan pakaian/ Kaos lengan panjang atau Pendek.
  3. Jenis Sepatu Bebas
  4. Dilarang menggunakan kelengkapan menembak Target : Jaket, sepatu,sarung tangan baik perlengkapan menembak senapan maupun pistol,sling,laser pointer,palm rest,dan perlengkapan tambahan.
  5. Tidak diperbolehkan mengganti senapan pada saat pertandingan berlangsung baik karena senapan rusak ataupun tidak.


H. KETENTUAN LAIN-LAIN
  1. Setiap nomor pertandingan boleh melakukan daftar ulang dibatasi sampai 3 kali dan penilaian tetap diambil dari nilai tertinggi petembak tersebut.
  2. Setelah mendaftar para peserta diharapkan segera menuju area perlombaan masing masing nomor pertandingan dan menyerahkan Form ke Juri Lapangan masing masing nomor pertandingan, untuk Pengaturan Gelombang dan Jalur, untuk kemudian Peserta dipanggil untuk memulai perlombaan.
  3. Waktu Istirahat selama 1 jam ( 12.00 – 13.00 )
  4. Panitia tidak menyediakan senjata , Amunisi dan  Gas
  5. Safety Area (wajib disediakan oleh Panitia penyelenggara)
  6. Area penembakan, Area Zeroing yang terpisah dengan batas batas serta pengamanan yang jelas dan baik.
  7. Area Tabung Gas (Scuba/Tabung angin) dilarang berada di area umum kejuaraan.
  8. Kekurangan dalam ketentuan umum ini akan dibahas sebelum pertandingan dimulai.




Sabtu, 09 Juli 2016

Gabung Yok di Komunitas Bediler Nusantara

Sebelumnya kami haturkan selamat idul fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan batin.
Bagini, saya itu banyak mendapat SMS yang menanyakan berabgai hal tentang senapan angin dan berburu. Dulunya sedikit, sehingga bisa dilayani. Sekarang sudah banyak, mau jawab semua waktunya ga banyak. Soalnya penjelasannya panjang lebar, dan jawab-jawaban. Belakangan saya tak punya waktu lagi untuk berkomunikasi dengan para pengunjung blog jb-adventure ini.

Setelah timbang-timbang, saya memutuskan untuk membuat grup di facebook aja. Jadi sega sesuatu yang terkait dengan aneka pertanyaan bisa ditanyakan di sini. Saya sudah meminta kesediaan dari Mbah Ipin dan Tok Qois untuk turut serta melayani aneka pertanyaan seputar senapan angin dan berburu. Dengan demikian akan terjadi komunikasi yang interaktif. Dan sayapun tidak dicap sebagai bloger yang sombong karena tak bisa menjawab aneka pertanyaan dari sobat sekalian.

Oke, silahkan gabung yah. Saya beri nama grup ini Bediler Nusantara. Harapannya para penggemar senapan buatan nusantara bisa berkumpul di sini. Kita harus bangga begitu banak saudara-saudara kita yang pakar dalam membuat senapan angin berkualitas. OKe silahkah klik tautan ini untuk langsung bergabung dengan komunitas bediler nusantara.


Salam Mimis!
Mimis? hahaaa..

Minggu, 15 Mei 2016

Menembak dan Berburu

Menembak itu ternyata berbeda dengan berburu. Orang yang terampil menembak belum tentu terampil berburu. Namun orang yang ingin berhasil berburu harus terampil menembak. Oleh karena itu berburu itu keterampilan yang lebih kompleks daripada menembak.
Jika keterampilan menembak ditentukan sejauh mana kita dapat mengenai target dengan tepat dan konsisten. Sedangkan keterampilan berburu mencakup keterampilan mencari dan menemukan sasaran, keterampilan dalam menentukan saat yang tepat dakam menembak, keterampilan dalam melumpuhkan hewan buruan, hingga menemukan hewan buruan yang telah tertembak.
Seorang yang hanya mampu menembak dengan hewan buruan dengan tepat belum bisa dikatakan sebagai pemburu yang baik jika setelah menembak ia gagal menemukan hewan buruannya.
Dan ketahuilah seorang pemburu yang membawa pulang banyak hewan buruan belum tentu ia adalah seorang penembak yang hebat. Karena bisa jadi hewan buruan yang ia bawa pulang adalah hasil buruan kawannya yang ia klaim sebagai hasil buruannya. Hihiii.
Salam berburu!

Senin, 29 Februari 2016

Laras LW VS Hama Tupai 2

Akhirnya saya sampai di lokasi berburu sekitar pukul 6.30. Terlalu siang untuk sebuah aksi berburu hama yang memiliki kharakter lamban di pagi hari.
Tapi ga apalah. Niat awalkan buat olah raga, ngecilin perut. Jadi harus lanjut.
Ada dua pilihan lokasi. Lokasi ini lokasi n
Baru bagi saya. Saya tak pernah sekalipun mengunjungi spot ini.
Lokasinya cukup bagus. Sebuah kawasan kebun kelapa yang dikelilingi oleh semak perdu. Tak ada pohon durian atau langsat. Full pohon kelapa. Lokasi yang seperti ini sangat asik sebagaj lokasi berburu dengan gaya sniperan, gaya tembak jarak jauh sambil mengamati perilaku target buruan.
Kebetulan posiai lokasi ini juga keren. Ada dua kawasan kebun yang dipisah oleh parit besar dan jalan aspal. Satu disebelah barat, satu di sebelah timur. Saya cenderung memilih sebelah barat. Karena kalau berjalan maka saya akan membelakangi matahari terbit sehingga tak silau dan bisa melihat pergerakan hama tupai lebih jelas.
Tantangannya di kawasan ini paritnya lebih lebar. Munimal 1,5 meter bahkan banyak yang 2 meter. Sanagat sulit melompat kalau tak ada landasan pacu yang cukup panjang. Tapi ga masalah. Selama masih ada kaki pastilah bisa melompat.
Saya memasuki kawasan kebun dengan pandangan menerawang seantero kebun. Belom tampak ada pergerakan hama tupai. Padahal saya sudah berjalan sekitar 100 meter. Namun tak apalah. Jalan aja terus. Siapa tahu kawanan tupai menunggu saya di dalam.
Harapan saya terkabul. Ada pelepah kelapa yang bergerak-gerak tepat di arah jam 11. Darah saya berdesir. Jabtung berdegup lebih kencamg dari biasanya.
Lalu di arah jam 2 ada lagi pergerakan. Kali ini tamoak dua ekor tuai sedang saling berkejaran. Mereka pasti sedang memadu kasih. Mantab. Lokasi yang keren!
Saya mendekat, ingin melihat respon hewan yabg sensitif ini. Wah surprise, kawanan tupai di lokasi ini tak terlalu liar. Tampaknya jarang dimasuki pemburu.
Namun baru saja ingin menghampiri, seekor tupai tiba-tiba melompat di arah jam 3. Jaraknya mungkin sekitar 30 meter. Senapan saya pasti sampai. Tapi hewan buruan sejauh itu hanya terlihat seukuran kutu saja di teleskop. Resiko meleset terlalu besar. Sayapun mendekat perlahan, mencari sudut yang pas dan ada fasilitas senderan untuk menjepit senaoan agar tak goncang.  Dan dapat. Ada batang pohon buat sandaran senapan dengan sudut pandang yang leluasa tapi tersembunyi.
Saya bergaya seorang sniper. Tupai yang sudah tampak jelas di teleskop tidak langsung saya shoot. Sok sekali! Hahaa.
Saya amati pergerakannya, mengamati goyangan ekornya dan langkah kakinya. Saya menunggu posisi tubuh yang pas. Targetnya kepala atau minimal bagian dada. Wah nggaya nembaknya milih-milih. Padahal biasannya asal masuk bulatan tele aja, langsung shoot. Hahaa.
Inilah seninya kalau hunting di kawasan perkebunan kelapa. Pergerakan tupai bisa diamati dengan jelas. Pandangan kita lebih lapang tak tertutup aneka pepohonan. Desiran jantung saat mengamati dan menunggu moment-moment menarik triger terasa lebih lama. Indah sekali!
Halah, nyakitin hewan kok dibilang indah!
Oke, setelah menunggu beberapa saat, posisi tubuh target berputar ke arah saya. Nah lho! Saya geser senapan perlahan untuk menempatkan crosshair tepat di kepala target. Jantung mulai berdebar. Senapan agak berguncang. Saya tarik nafas dalam-dalam untuk mestabilkan deguoan jantung, menahannya lalu mulai menekan triger perlahan-lahan. Dan besss teigerpun saya tekan...pok....lalu bubb! Hama tupai pertama jatuh ke tanah. Head shoot! Muantab!
Saya berjalan cepat menuju lokasi jatuhnya target. Tak berapa lama saya menemukannya terkulai. Saya mengangkat korban pertama itu lalu perlahan dan memindahkannya ke tali jerat sambil membaca istighfar beberapa kali.
Iya aku paham membunuh hewan ini kurang baik. Semoga Allah mengampuniku. Heheee.
Setelah itu saya berjalan lagi. Tak lama terlihat lagi pergerakan di pelepah kelapa yang cukup tinggi. Mungkin setinggi 20 meteran. Saya mendekat sambil mengokang senapan. Lalu mengambil jarak sekitar 15 meter dari kaki pohon kelapa. Moncong laras saya arahkan lagi ke target. Saya tak mau terburu-buru menekan triger. Menikmati moment rasa yang sangat unik.
Setelah beberapa saat...bess...lalu bup..korban kedua jatuh.sayapun Istigfar lagi.
Nah giliran target ketiga, saya tak jadi shoot. Seeokor tupai melintas di arah jam 10 menuju arah jam 12. Ada sesuatu yang dibawanya. Tapi saya tak bisa melihatnya dengan jelas. Saya mendekat lalu mengarahkan senapan ke sasaran sambil mengintip via teleskop. Tupai itu berhenti lalu memandang saya. Saya membalas pandangannya. Kami pandang-pandangan.
Lewat teleskop saya melihat dengan jelas ada sesuatu yang dibawa oleh hewan Itu. Sabut pelepah kelapa! iya sabut pelepah kelapa. Ia menarik sabut itu dengan giginya. Lalu mengumpal-gumpalkan serat itu dengan kedua tangannya. Lucu sekali. Setelah berbentuk bulat, bola sabut itu digigitnya lalu ia berjalan ke arah jam 3. Jalannya tak cepat. Sesekali ia berhenti. Lalu berjalan lagi. Saya tetap mengamati pergerakan target lewat teleskop saya. Dia berhenti. Jantung saya berdebar. Telunjuk siap menarik pelatuk. Ia hanya diam memandang saya dengan tajam. Dan tiba-tiba rasa kasihan muncul seketika. Saya turunkan senapan saya, sambil mbatin, silahkan teruskan perjuanganmu membangun rumah impianmu, kawan. Kau tak layak mati karena sedang berjuang membangun rumah impianmu. Silahkan teruskan perjalananmu kawan. Salam buat calon anak-anakmu kelak. Hihii...
Kebahagiaan melepaskan seeokor hewan buruan yang telah terkunci di croashair teleskop ternyata jauh lebih asik rasanya dibandingkan berhasil mendapatkan hewan buruan dengan tembakan head shoot. Saya menikmati moment itu.
Saya duduk di bawah pohon kelapa beralas akar-akarnya yang menggunung di atas tanah. Saya teguk air teh manis dari botol, lalu menyulut sebatang rokok. Whussss...asap rokok mengepul putih dan transparan berkilatan karena sinar matahari pagi yang menwmbus celah-celah pelepah kelapa.Bergulung-gulung lalu hilang.
pagi yang indah sekali...
sebuah irama lagu dari koes plus menemani istirahat saya di pagi yang indah itu.
***
Setelah puas menikmati pagi perburuan berlanjut. Tak jauh saya berjalan. Hanya 2 blok kebun. Tapi hari itu cukup melelahkan. Aktivitas lompat parit dan berjalan diatas tanah penuh batang kayu, batang kelapa dan kountur tanah kebun yang bergelombang mungkin menjadi sebab.
Saya shoot target 10 kali pagi itu. 7 kena, dua diantaranya hilang di perdu tanah. 2 kena tapi satu bisa lari lagi, mungkin terkena dibagian perut, satu lagi tak tahu bisa kena lalu nyangkut atau bisa jadi tak kena sama sekali. Sisannya satu ekor mujur. Shoot 3 kali, tiga-tiganya meleset. Punya ilmu tuh tupai! Hehee.
Kesimpulannya, senapan pcp lokal kalau disilangkan dengan laras lw asli jerman, hasilnya sangat memuaskan. Hakh!

Minggu, 28 Februari 2016

Laras LW VS Hama Tupai

Beberapa bulan belakangan berburu hama tupai tak pernah mencapai kepuasan maksimal. Penyebabnya ya macam-macam. Kadang masalah hewan buruan ga nongol sama sekali. Kadang nongol, tapi liar sekali. Baru liat tas senapan aja tupai ngacir entah kemana.
Beberapa kali dilangit yang cerah dan dihari cukup banyak tupai bercanda, eh senapannya pula yang masalah. Tembak kepala kena kelapa. Tembak dada yang gugur bunga. Ga klop terus. Meskipun gitu, berburu itu tetap saja asik.
Sekarang senapan borneo saya dalam kondisi fit terus. Setelah laras diganti dengan laras orang jerman, mimis berlari begitu taat dengan tuannya. Jarang meleset, yang sering iti ga kena. Hihiii.
Sayangnya seringkali cuaca minggubpagi kurang bersahabat. Dua minggu yang lalu saking semangatnya, saya turun berburu jam 4.45. Motor dipacu cepat agar sampai di spot berburu kebun kelapa masih gelap. Dasar sudah beruntung, sayapun sampai di tujuan sesuai harapan. Pasang obat nyamuk, senapan dikeluarkan dari bagnya, peredam dipasang, isi peluru pasang magazin, tes tembak 2 kali. Saat baru mau masuk kebun... eh hujan turin dengan derasnya Huadowww!
Tunggu punya tunggu, sampailah jam 9 hujan hujan berhenti. Jam 9 nembak tupai...mereka sudah pada main clash of clan di tempat tidur!
Pada saat menyandang laras lw di borneo, hasil hewan buruan juga belum memuaskan. Beberapa kali saya hanya dapat shoot 1-2 ekor saja. Ah malui-maluin kalau segitu sih.
Masalah utamanya sih memang spotnya kurang bagus. Kalau shoot memang lebih akurat dibanding sebelum laras diganti. Ga takut meleset nembak hewan tupai yang hanya sebesar lalat  diteleskop saat berada pada jarak diatas 20 meteran. Whuihhh nggaya!
Pingin juga shoot lebih dari 2 ekor. 5 kah, 10 kah. Sekali-sekalilah. Kalau sering-sering juga ga baik. Kasihan. Ntar tupainya habis. Kalau habis ntar makin jauh aja kita nembaknya!
Tapi tadi pagi ibadah berburunya cukup memuaskan. Malam hari sebelum pagi, langit cerah. Besok pagi pastilah hari tak hujan. senapanpun dalam kondisi prima. Besok subuh tentulah moment berburu yang indah. Bobok dulu senyenyak-nyenyaknya biar besok badan fit, mata tajam jadi bisa maksimal berburunya.
Dan syukur alhamdulillah tidur malam saya sangat nyenyak. Saking nyenyaknya bangunpun kesiangan. Ancore!
Jam 6 baru bangun. Hati jadi galau. Ini mau shalat shubuh dulu atau langsung berburu yahh. Haduh shalat subuh dululah.shalatkan wajib. Oke! Sayapun bergegas ke kamar mau ambil sarung. Pas sampai di kamar yang diambil malah jaket untuk berburu! Dasar otak berburu! Jaketpun saya lepas ganti kain sarung lalu wudlu terus shalat. Habis salam, langsung ambil jaket. Dzikir dan doanya dijalan aja. Kwkwkwk. Berangkaaaaaat!
Nah saat sudah di jalan, mau nembak kemana malah bingung. Ginilah jadinya gara-gara bangun kesiangan. Suasana hati jadi ga jelas gitu. Akhirnya serba ragu. Mau ke lokasi yang dekat, di Paret Hanura, kawanan tupai pasti sudah dihabisi kang eky chonta. Maklum orang ini maniak berburu. Sehari bisa dua kali turun dilokasi yang sama. Seminggu berarti 14 kali berburu. Gimana ga habis tupainya.
Trus mau yang jauh, di Sungai Rengas atau Jeruju, kayaknya kejauhan. Sampai di sana pastilah kesiangan. Paking ngga jam 7 baru sampai di titik berburu. Ah bingung.
Namun, akhirnya saya putuskan ambil yang jauh aja. Lebih baik jauh tapi ada isinya, daripada dekat tapi isinya batang kelapa semua! Hihii.
Bersambung

Sabtu, 14 November 2015

Berburu Punai

pcp borneo E 60
Berburu burung punai bagi saya sangatlah sulit. Kharakter hewan ini jauh berbeda dengan hama tupai.
Hama tupai memiliki kharakter yang dinamis sehingga mudah dipantau pergerakannya. Sedangkan punai, cenderung lebih pasif sehingga lebih sulit dipantau.
Hari kamis yang lalu saya belajar secara khusus cara berburu punai dengan mbah ipin. Dari ahli otak atik senapan pcp ini saya jadi paham trik berburu punai. Walaupun hanya berhasil shoot 3 ekor, namun saya merasa cukup puas.
Dari mbah ipin saya memahami beberapa trick berburu punai.
1. Kita harus mengetahui spot. Burung punai adalah hewan yang sangat sensitif dengan pergerakan manusia. Kita harus mengetahui dimana hewan ini biasa hinggap untuk makan, tidur, atau hinggap sementara. Dengan mengetahui spot tersebut, maka kita bisa mengatur gerakan agar si target tidak menyadari kehadiran kita. Jika kita tidak memahami spot ini, seringkali gerombolan punai akan berhamburan pergi sesaat setelah melihat kehadiran kita. Pohon leban adalah pohon favorit punai. Karena buah leban adalah makanan utama burung yang molek ini. Selain itu pohon jambu, pohon mahang serta pohon kelapa seringkali jadi tempat persinggahan punai untuk mengamati pohon leban sebelum mereka turun untuk menikmati buahnya. Yang perlu diingat tak semua lokasi pohon leban akan dihinggapi punai. Mereka punya kriteria khusus untuk menentukan pohon leban yang seperti apa yang akan dijadikan tempat makan. Untuk mengetahuinya kita perlu menanyakan hal ini kepada punai melalui sms, wa atau bbm. Hahaaa...
2. Jeli mengamati. Burung punai adalah binatang berkostum camo yang nyaris sempurna. Jika ia telah hinggap di pohon leban, mahang atau jambu, kita akan sangat sulit menemukan hewan ini karena warna tubuh yang nyaris sama dengan dedaunan. Menariknya hewan ini sesekali melakukan pergerakan, berpindah pada ranting lain, atau bergeser. Nah, saat ia melakukan pergerakan itulah kita baru memiliki peluang menemukan target. Oleh karena itu, jika kita menemukan pohon leban dari kejauhan, jangan langsung mendekati akan tetapi amati dulu apakah ada punai diantara dedaunannya menggunakan mata telanjang, atau teleskop senapan. Jika ada silahkan mendekat perlahan. Dan jika sudah memasuki jarak tembak segeralah temukan si target melalui bantuan teleskop. Selain pergerakan, punai juga bisa diakati dari warna kakinya yang berbeda dengan warna daun dan ranting. Tapi mata tua saya tetap saja sangat sulit membedakannya dari kejauhan.
3. Ronda keliling. Sebuah pohon leban yang berbuah lebat biasanya akan didatangi kembali oleh gerombolan punai lainnya. Satu gerombolan punai bisa berjumlah antara 4 hingga belasan ekor. Setelah kita shoot sekali burung ini akan terbang berhamburan tak peduli sesenyap apapun senapan kita. Dan setelah beberapa waktu gerombolan punai lain akan mendatangi kembali pohon tersebut. Oleh karena itu mbah ipin bilang untuk agar sukses menembak punai kita harus rajin-rajin ronda. Karena kalau ga ronda nanti dimarahin pak RT.
4. Killing point. Killijg point burung punai sama seperti binatang lain, di kepala, leher, dan dada. Namun saya cenderung memilih bagian dada. Karena ukuran kepala punai di teleskop hanya sebesar satu dot saja jadi sangat besar kemungkinan loss target. Kalau shoot pada bagian tubuh, biasanya punai tidak langsung tewas, makanya masih punya kesempatan untuk disembelih dengan menghaturkan ijin kepada Allah SWT.

Gitu deh beberapa tips berburu punai yang saya pelajari dari mbah ipin. Saya beruntung bisa belajar langsung master hunter senior yang skill huntingnya tak perlu diragukan lagi ini.
Oya saat turun berburu saya membawa senapan pcp Borneo E60 buatan mbah bedjo dengan mimis JSB exact. Senapan ini yang sudah dioprek 3 kali oleh mbah ipin. Oprekan terakhir adalah mengganti laras borneo saya menjadi laras LW made in Germany. Hasilnya semakin meyakinkan.

Sabtu, 26 September 2015

Borneo E60 Mbah Bedjo

Sejak tibanya Borneo E60 dipangkuan ibu pertiwi sekitar bulan Juli lalu, senapan berlaras 41 cm ini sudah 4 kali saya bawa turun ke lapangan. Berburu hama tupai di pelosok kebun kelapa dan tepian hutan perdu.
Turun pertama tqk membawa hasil. Target tak banyak kelihatan, shoot 3 kali tapi mimis melenceng entah kemana. Teleskop 3x28, saya vonis bersalah. Lalu ganti teleskop yang lebih besar ukuran 3-12 x 40. Turun lagi. Hasilnya juga nihil, walaupun hewan buruan sepi saya masih shoot 2-3 kali dan mimis tak nyerempet sasaran sedikitpun.
Lalu saya minta tolong Mbah ipin setting senapan besutan Mbah Bedjo itu. Setelah dibongkar sana sini oleh mbah Ipin dan dipasangi teleskop vortex 3-12 x 40 yang jernih punya saya merasa mantap. Borneo Cebol saya bawa turun lagi. Hewan buruan lebih banyak, shot 6-7 kali, hanya satu yang tewas. Teleskop oke  hanya masih ada masalah. Posisi tele terlalu ke belakang sehingga mengakibatkan sulit membidik target dengan cepat. Peluru juga masih kocar kacir saat membidik daun pisang. Tapi lumayan ada progress. Walaupun kurang memuaskan.
Setelah itu Borneo dengan tabung 300cc ini saya isi lagi dengan tekanan 2100. Namun karena kabut asap, si Borneo hanya tersimpan rapi.
Sehari setelah hujan turun dan kabut asap mulai menipis, saya angkat lagi Borneo dengan popot thumbhole ini. Sayangnya tekanan berkurang di posisi 200 psi. Saya memvonis tabung bocor.
Malam hari saya bawa borneo ke markas Reddot di Suwignyo, mbah Ipin telah menunggu untuk mengoprek senapan. Karena telah malam, dokter ipin memutuskan si Borneo harus rawat inap. Mbah Ipin juga memutuskan untuk meningkatkan stabilitas tekanan.
Dua hari berlalu Borneo sudah sehat kembali. Sebelum di bawa turun saya memperbaiki posisi teleskop agar pas dimata dan mantab dihati. Karena bergeser, malam itu pula borneo harus menjalani setting tele. Setelah habis satu magazine yang berisi 16 peluru, senapanpun saya isi gas dengan tekanan 2300. Lalu paginya saya bawa jalan-jalan ke kebun kelapa terdekat.
Kabut asap lumayan pekat. Tapi rasa penasaran, pekatnya asap tak membunuh tekad. 05.30 saya meluncur ke lokasi. Baru masuk nampak hama tupai berkeliaran. Beberapa burung punai juga melintas di atas kepala. Pagi yang indah.
Di pagi yang riuh itu, akhirnya Borneo menunjukan kesaktiannya. Saya shoot 10 kali. 7 kena, 3 meleset. Hasilnya lumayan. Pada sela-sela ranting yang rapat saya berhasil shoot 5 ekor hama tupai dan 2 punai. Sayangnya karena lantai kebun penuh ranting dan daun kering 2 ekor hama tupai dan 1 ekor punai tak ditemukan.
Nah begitu. Kesimpulannya sekarang saya puas menyandang Borneo E60 besutan Mbah Bedjo. Untuk mencapai hasil yang diinginkan kita memang harus bersabar. Sehebat apapun sebuah senapan, kita perlu melakukan oprak-oprek si senapan agar lebih mantap saat digunakan. Kita juga perlu penyesuaian dengan aneka faktor seperti tele, triger, kenyamanan senapan saat membidik, agar semakin pede dalam berburu.
Masih mending Borneo E 60, senapan saya yang chonta jenis air arm memerlukan waktu lebih dari 6 bulan untuk setting dan kenyamanan. Yah begitulah seninya punya senapan baru. Senapan angin tidak seperti motor baru, begitu beli langsung bisa ditunggangi tanpa perlu setting sana-sini.
Terakhir, saya bisa simpulkan senapan besutan Mbah Bedjo yang dioprek Mbah Ipin ini sangat bisa diandalkan. Bravo Mbah Bedjo dan Mbah Ipin.

 ********
 senapan ini mau saya lepas, bagi yang minat silahkankontak whatsapp 085245186277
********